BDKSURABAYA - Menjadi pegawai dalam masa percobaan menjadi kesan tersendiri bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Di samping mekanisme kerja, budaya kerja dan lingkungan sosial di tempat kerja yang belum diketahui sepenuhnya, tugasnya pun belum semuanya dipahami sehingga masih perlu belajar dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan. Ditambah lagi jika CPNS tersebut ditugaskan untuk menjadi panitia penyelenggara di luar daerah yang tentunya membutuhkan kompetensi dan kesiapan diri untuk menjalaninya.(19/02/2021)
Bagi Fibria yang menjadi CPNS untuk posisi analis tata laksana mengutarakan bahwa ia terkejut dengan volume pekerjaan di BDK Surabaya yang tergolong padat karena dituntut untuk menjalankan 2 peran sebagai analis tata laksana, namun juga dibutuhkan perannya sebagai panitia pelaksana di daerah. Tugas sebagai panitia pelaksana pelatihan baginya tak pernah ia bayangkan.
“Saya kaget ketika ditugaskan sebagai panitia penyelenggara secara beruntun karena kemarin saya sudah menjadi panitia pelatihan Pembelajaran Tematik MI di Kab. Probolinggo. Sedangkan minggu depan ditugaskan lagi menangani pelatihan Moderasi Beragama dan Nasionalisme bagi ASN di Kab. Lamongan. Saya tak mengira jika sesering itu ditugaskan ke luar kota. Namun saya sangat senang karena ternyata di daerah bertemu dengan orang-orang baru yang masih CPNS juga, Intinya bekerja di Balai Diklat itu penuh dengan kejutan dan tantangan,” terangnya.
Pernyataan yang tak jauh beda disampaikan oleh Novita yang menjadi CPNS untuk posisi sebagai analis laporan realisasi anggaran. “Menjadi panitia penyelenggara di daerah merupakan hal yang sangat baru bagi saya. Sebelumnya saya tak membayangkan jika akan ditugaskan ke daerah sesering ini. Saya pikir pekerjaannya hanya di kantor untuk menangani laporan realisasi anggaran dan tugas keuangan lainnya. Saya tidak ada gambaran sama sekali bahwa saya akan diterjunkan ke daerah dan dilibatkan sebagai panitia. Namun bagi saya itu memberikan manfaat tersendiri karena bisa kenal dengan banyak peserta dan berinteraksi dengan mereka.,” ungkapnya.
Pandangan yang serupa datang dari Wikaning yang menjadi CPNS untuk posisi analis data dan informasi. Baginya bekerja di balai diklat membutuhkan multi skill karena dituntut untuk menjalankan 2 peran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
“Bagi saya bekerja di sini membutuhkan multi skill dan multi peran. Bayangan saya, bekerja sebagai analis data itu hanya menangani data dan informasi seperti menangani dan mengolah data peserta serta alumni pelatihan, melakukan survei-survei, membuat info grafis dan semacamnya. Namun ternyata dibutuhkan juga kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan peserta karena dilibatkan dalam sebuah kepanitiaan. Kita juga butuh kemampuan untuk memahami orang lain karena dilibatkan dalam tim kepanitiaan. Saya tak menyangka akan ditugaskan untuk dinas luar dalam waktu yang relatif lama dan sering. Hal itu menjadi pengalaman berharga sebagai CPNS. Saya jadi semakin memahami bagaimana bekerja dan menjadi bagian dari tim kepanitiaan, “ terangnya.
Hal yang sama dirasakan oleh Zaidan. Pengalaman bekerja dengan status CPNS di BDK Surabaya menjadi pengalaman yang berharga, tidak saja dalam hal pekerjaan, namun dalam bersikap bagaimana menjadi bagian dalam tim kepanitiaan.
“Saya tak menyangka akan ditugaskan menjadi panitia pelaksana pada pelatihan di wlayah kerja, karena saya masih CPNS. Begitu banyak pengalaman baru yang saya peroleh terutama bagaimana bekerja sama dengan orang lain dan menjadi bagian dari tim panitia, rasanya penuh kejutan dan tantangan, “ urainya. (AF).
Penulis :
Editor :
Sumber :